Hantar karya puisi online dating German irc webcam chat

Rated 3.89/5 based on 903 customer reviews

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “SASTRA INDONESIA (CERPEN)”.Harapan penulis semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca,dan penulis berharap kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun, sehingga penulis dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.Tujuan pembuatan Makalah ini adalah untuk memberikan informasi, dan menambah wawasan pembaca mengenai Sastra Indonesia yang terlebih pada pokok bahasan “CERPEN”.Selain itu tujuan lain adalah untuk menyelesaikan tugas dari guru Mata Pelajaran TIK. Cerita pendek cenderung kurang kompleks dibandingkan dengan novel.Cerpen jenis ini biasanya enak dibaca dan mudah dipahami isinya.Pembaca awam bisa membacanya dalam tempo kurang dari satu jam 2.Cerpen merupakan karya sastra yang menarik dan sederhana.

Cerpen jenis ini pada umumnya bersifat konvensional dan berdasar pada realitas (fakta).

Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dipatok sebagai karya sastra berbentuk prosa fiksi dengan jumlah kata berkisar antara 750-10.000 kata.

Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dapat dibedakan menjadi 3 tipe, yakni: 1.

The problems of getting the “correct meaning” come ahead because these difficult lines, if I may say, are “illogical” (? Poem # 1, The problem of meaning we get from this poem comes from the last line; “awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”. Di beranda ini angin tak kedengaran lagi Langit terlepas.

If, we consider this verse is indeed a metaphoric way to say that A will give even its own life to make B exist as in the previous verse, so in this last verse we will come into this kind of confusion: Saying that Sapardi Djoko Damono did not know about the water cycle would be inappropriate or to say that the last verse was made in a trance condition would also be something blasphemous, or we can be an ignorant reader: just enjoy this poem without any complaint and let the meaning of the last verse be unknown? It starts with the depiction of a gloomy patio where both make goodbye and ends with “I” who is alone on the train. Ruang menunggu malam hari Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba Kudengar angin mendesak ke arah kita If the first verse takes patio as its setting and involves two persons who are going to make goodbye, so the first line from the first verse creates a problem regarding the congruence to the Taking the assumption that there are only X and Y in the patio and going to make goodbye, thus a reader should realize that this first line at the first place gives a scene of silence before X breaks the silence by saying: “pergilah sebelum malam tiba”.

Leave a Reply